Terbaru · Terpilih · Definisi · Inspirasi · Aktualisasi · Hiburan · Download · Menulis · Tips · Info · Akademis · Kesehatan · Medsos · Keuangan · Konseling · Kuliner · Properti · Puisi · Muhasabah · Satwa · Unik · Privacy Policy · Kontributor · Daftar Isi · Tentang Kami·

Profil A. Rifqi Amin pendiri *Banjir Embun*

Profil A. Rifqi Amin pendiri *Banjir Embun*
Profil A. Rifqi Amin pendiri *Banjir Embun*. Silakan klik foto A. Rifqi Amin untuk mengetahui biografi beliau.

Calon Istri Saya, Semoga Disegerakan dan Dipermudah

 Banjirembun.com - Calon istri saya sedang di mana? Calon istri saya sedang apa? Calon istri saya bagaimana? Dan yang paling penting siapa sebenarnya calon istri saya? Sejauh ini belum saya temukan.

Rezeki, jodoh, dan maut sudah ditetapkan Tuhan. Saya meyakini itu sepenuhnya. Salah satu alasan keyakinan tersebut ialah saya pernah mengalami tak pernah pegang duit selama beberapa hari serta jauh dari orang tua dalam kondisi kelaparan.

Pun, saya telah merasakan ditimpa kehadiran maut yang hamir mendekap erat. Beberapa kali. Bukan hanya terserang penyakit. Melainkan pula berupa ancaman lain yang tak perlu saya uraikan di tulisan ini.

Namun, terkait perjodohan, ternyata saya boleh dibilang belum menemukan jodoh. Sempat sih menikah, tetapi berujung perceraian. Jadi, mantan istri bukanlah jodoh saya. Inilah yang jadi tugas saya untuk mencarinya.

Mungkinkah saya dijodohkan Tuhan di surga? Jangan salah pikir dulu, lantas berkata "Kok PD sekali bilang masuk surga?" Guna tahu jawabannya silakan pahami ulang kata "mungkinkah."

Semenjak cerai dengan istri, sebagai laki-laki normal, saya langsung punya orientasi menginginkan istri yang seperti apa. Setelah menikah lagi kelak bakal tinggal di mana dan berada di kawasan bagaimana.

Tentulah, calon istri idaman saya yang menyangkut karakter atau sifatnya tidak menyamai maupun agak mirip mantan istri. Oleh sebab itu, saya akan hati-hati betul. Enggak mau buru-buru seperti dulu.

Ilustrasi calon istri (sumber foto pixabay.com)


Biarpun, calon istri merayu-rayu ataupun mengiming-imingi. Saya akan tetap pada keteguhan prinsip. Hal itu, demi tidak mengulangi kesalahan sama. Yakni, memperoleh wanita yang "merepotkan" batin saya untuk diajak beribadah dan menyembah Tuhan.

Calon istri saya, harus bersedia punya anak. Bukan hanya di lisan, tetapi juga perbuatan. Calon istri saya, mesti mau diajak ke Masjid. Hidup bersama dengan komunitas Muslim di rumah ibadah.

Tak perlu dia dituntut mampu mengendalikan trauma masa lalu saya, terlebih lagi bisa menanggulanginya. Terpenting, calon istri saya tersebut tidak semakin membuat trauma masa lalu saya semakin parah.

Sebab, saya butuh istri sebagai teman. Bukan konselor atapun psikiater. Saya memerlukan istri sebagai hamba Tuhan umumnya. Bukan pemuka agama yang mayoritasnya mampu mendinginkan hati jemaatnya.

Saya ingin membahagiakan istri saya kelak dan ia pun mau memsyukurinya dengan ikhlas. Saya berencana bertanggung jawab penuh padanya dan ia juga rela menjalani hidup bersama dengan tulus. Lillahitaala. Mementingkan dan memomorsatukan Tuhan.

Intinya, saya kapok mempercayai sembarangan wanita, yang faktanya sekarang saya teramat rela bercerai dengannya. Malahan, sesudah pisah secara resmi nyatanya membuat hati saya sungguh lega.

Saya tidak menyesal setelah bercerai. Justru, saya bertanya kepada diri "Kenapa tidak cerai dari dulu saja?"

Semoga cerita saya ini bermanfaat.


Sanggahan (disclaimer): Tulisan ini dibuat oleh pria bernama Kode X. Tentunya, sebuah identitas samaran. Itu semata-mata demi menjaga privasi dan mempertahankan nilai moralitas.






Baca tulisan menarik lainnya:

Terima kasih telah membaca tulisan kami berjudul "Calon Istri Saya, Semoga Disegerakan dan Dipermudah"

Posting Komentar

Berkomentar dengan bijak adalah ciri manusia bermartabat. Terima kasih atas kunjungannya di *Banjir Embun*