Banjirembun.com - Mantan istri saya saja, tak pernah menuduh saya mencuri uangnya. Meski dia berkali-kali menunjukkan uang tunai yang berjumlah banyak di dalam tasnya, lalu menggeletakkan begitu saja saat ditinggal, bersyukurlah saya tak tergoda.
Saya pilih jalan lain, daripada mengambil duit tanpa izin milik mantan istri, mendingan cari duit secara online. Oh yah lupa, saya sebut mantan istri karena Pengadilan Agama sudah memberikan keputusan bahwa kita berstatus talak bain sughra. Alhasil, tak bisa rujuk kembali.
Seumur-umur, saya telah beberapa kali dituduh penuh sorotan telah mencuri uang. Seenggaknya, pernah dicurigai atau masuk nominasi calon tersangka pencurian. Saya tetap tegar saja tanpa menunjukkan wajah takut. Alasannya sederhana. Saya memang tidak mencuri.
Lah, sekarang ibu kandung saya yang menuduh saya mencuri uang bapak kandung saya. Sungguh, inilah cobaan paling berat dalam hidup. Kalau saya sedang punya uang berjumlah cukup, ya mungkin fitnah semacam itu tidak begitu berat. Faktanya, sekarang saya butuh duit bantuan finansial dari orang tua.
Sayangnya, jangankan memberikan bantuan keuangan setara atau seimbang dengan saudara kandung lain, yang ada saya ini diperlukan sebagai anak buangan. Yah, beginilah risiko menjadi anak yang tak dikehendaki kelahirannya oleh ibu kandung.
Lebih lanjut, alih-alih mendukung secara mental dan moralitas, ibu kandung justru semakin menurunkan semangat hidup. Parahnya, tampak tak menunjukkan empati atau rasa kasihan. Justru berkata yang kurang lebih redaksinya "Rasakno to, sak iki pegatan" yang artinya "Rasakan tuh, sekarang cerai."
Bahkan, ibu kandung juga berkata kurang lebih "Ojo ganggu bapak, ojo ganggu mas karo mbak, bapak duitnya wes entek kanggo kebutuhan liyo" yang artinya "Jangan mengganggu bapak, jangan mengganggu kakak, bapak uangnya sudah habis untuk kebutuhan lain."
Padahal, saya belum berkata-kata meminta uang. Bahkan, "menyindir" dengan bahasa majas demi bisa meminta uang secara halus pun tidak. Akan tetapi, ibu sudah memperingatkan lebih dulu. Tentulah, mental saya semakin jatuh. Sebab, ibu sudah tahu kondisi keuangan saya memang lagi jatuh sejak lama.
 |
Ilustrasi uang di dompet tinggal sedikit (sumber foto koleksi pribadi) |
Parahnya lagi, bapak termakan omongan ibuk. Bapak ikut-ikutan benci saya. Boleh dibilang, saya sekarang hidup sendiri. Akses dengan saudara kandung maupun kerabat lain, semuanya sudah "diblokir" oleh ibu kandung melalui hasutan dan adu domba dari beliau.
Kendati seperti itu, saya pilih untuk enggak melawan ataupun memberontak. Saya memutuskan diam dan selalu meng-iya-kan semua perkataan dan pertanyaan dari ibu kandung yang kerap kali memancing agar saya marah. Saya tak berani membantah ataupun sekadar memberi usul alternatif.
Misalnya, saat saya istirahat di kamar, tiba-tiba ibu mengajak bicara. Tentulah cara mengajak bicara beliau sejatinya satu arah. Terkesan mengintimidasi dan mengintrogasi. Tanpa memberi solusi. Kecuali, menjerumuskan dan menyesatkan supaya saya makin masuk jurang.
Lantas, saat ada suara tetangga lagi aktivitas di rumahnya membuat ibu kandung serta-merta mengajak bicara saya dengan nada tinggi. Mungkin biar tetangga mendengar. Disertai ucapan menyakitkan yang merendahkan harga diri saya sebagai anak beliau.
Mendapati hal tersebut, saya tetap berusaha untuk sabar dan ridho pada takdir Tuhan lantaran Dia Yang Maha Agung menghendaki saya punya ibu seperti itu. Barangkali ini jalan saya memperoleh ampunan dari-Nya. Semoga diganti balasan surga tanpa azab dan hisab.
Mungkin ini garis takdir saya yang harus tak punya teman dekat. Sebab, saya takut orang yang dekat dengan saya ikut menanggung musibah hidup saya. Baik langsung maupun tak langsung. Termasuk saudara kandung yang dekat pada saya bakal ikut dimusuhi ibu kandung.
(*)
Disclaimer: Nama penulis disamarkan menjadi Kode X. Nama sebenarnya disembunyikan demi etika. Individu yang bernama Kode X tersebut juga beberapa kali menulis curahan hati di website *Banjir Embun* ini.
Terima kasih telah membaca tulisan kami berjudul "Difitnah Mencuri Sangat Menyakitkan, tetapi tak Semengerikan Tatkala Ibu Kandung Sendiri yang Menuduh Mengutil Uang Bapak"
Posting Komentar
Berkomentar dengan bijak adalah ciri manusia bermartabat. Terima kasih atas kunjungannya di *Banjir Embun*